Inovasi Pendidikan di MIS Miftahul Ulum Jambearum: Padukan Ujian Berbasis Kertas dan Digital

Inovasi Pendidikan di MIS Miftahul Ulum Jambearum: Padukan Ujian Berbasis Kertas dan Digital

JAMBEARUM – Menjelang penghujung tahun 2025, suasana serius namun penuh semangat menyelimuti koridor MIS Miftahul Ulum Jambearum. Siswa-siswi madrasah ini tengah mengikuti agenda penting tahunan, yakni Sumatif Akhir Semester (SAS) Ganjil. Ada yang unik dalam pelaksanaan tahun ini: madrasah menerapkan sistem “Dual Mode” yang menggabungkan metode konvensional dan teknologi digital.

Menjaga Kemampuan Menulis bagi Kelas Rendah

Bagi siswa kelas satu dan dua, ujian dilaksanakan menggunakan metode berbasis kertas (tulis). Kebijakan ini diambil untuk memastikan siswa di jenjang awal tetap mengasah kemampuan motorik halus, kerapian menulis, dan ketelitian dalam membaca soal secara fisik.

Menurut pihak sekolah, penggunaan kertas bagi kelas rendah sangat krusial untuk memperkuat fondasi literasi sebelum mereka beralih ke perangkat digital sepenuhnya di masa depan.

Melangkah ke Era Digital bagi Kelas Atas

Berbeda dengan adik kelasnya, siswa kelas tiga hingga kelas enam melaksanakan ujian secara online menggunakan smartphone. Para siswa terlihat antusias mengakses platform ujian melalui gawai masing-masing di bawah pengawasan ketat para guru.

Penerapan ujian berbasis online ini bertujuan untuk:

  • Literasi Digital: Mengenalkan siswa pada pemanfaatan teknologi secara positif.
  • Efisiensi Waktu: Hasil ujian dapat terdata secara otomatis sehingga mempercepat proses penilaian.
  • Ramah Lingkungan: Meminimalisir penggunaan kertas (paperless strategy).

Perbandingan Metode Pelaksanaan SAS Ganjil

Jenjang KelasMetode UjianMedia yang Digunakan
Kelas 1 & 2Berbasis KertasLembar soal dan alat tulis
Kelas 3 – 6Berbasis OnlineSmartphone / Handphone

Komitmen Madrasah terhadap Kualitas Pendidikan

Kepala MIS Miftahul Ulum Jambearum menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari adaptasi madrasah terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan aspek dasar pendidikan.

“Kami ingin siswa tidak gagap teknologi, namun tetap memiliki kemampuan menulis dan membaca yang kuat. Inilah mengapa kami membagi metode ujian ini sesuai porsinya,” ungkap salah satu pengawas ujian.

Meskipun menggunakan smartphone, pengawasan dilakukan secara berlapis untuk menjunjung tinggi nilai kejujuran dan kedisiplinan siswa selama ujian berlangsung. Pelaksanaan SAS Ganjil ini diharapkan dapat menjadi tolok ukur yang akurat atas pencapaian belajar siswa selama satu semester terakhir.